Kemajuan Peradaban Islam dan Iptek
Masa kejayaan itu bermula saat Rasulullah
mendirikan pemerintahan Islam, yakni Daulah Khilafah Islamiyah di
Madinah. Tongkat kepemimpinan bergantian dipegang oleh Abu Bakar
as-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, dan
seterusnya. Di masa Khulafa as-Rasyiddin ini Islam berkembang pesat.
Perluasan wilayah menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya
penyebarluasan Islam ke seluruh penjuru dunia. Islam datang membawa
rahmat bagi seluruh umat manusia. Penaklukan wilayah-wilayah, adalah
sebagai bagian dari upaya untuk menyebarkan Islam, bukan menjajahnya.
Itu sebabnya, banyak orang yang kemudian tertarik kepada Islam. Satu
contoh menarik adalah tentang Futuh Makkah (penaklukan Makkah),
Rasulullah dan sekitar 10 ribu pasukannya memasuki kota Makkah. Kaum
Quraisy menyerah dan berdiri di bawah kedua kakinya di pintu Ka’bah.
Mereka menunggu hukuman Rasul setelah mereka menentangnya selama 21
tahun. Namun, ternyata Rasulullah justru memaafkan mereka.
Begitu pula yang dilakukan oleh
Shalahuddin al-Ayubi ketika merebut kembali Yerusalem dari tangan
Pasukan Salib Eropa, ia malah melindungi jiwa dan harta 100 ribu orang
Barat. Shalahuddin juga memberi ijin ke luar kepada mereka dengan
sejumlah tebusan kecil oleh mereka yang mampu, juga membebaskan sejumlah
besar orang-orang miskin. Panglima Islam ini pun membebaskan 84 ribu
orang dari situ. Malah, saudaranya, al-Malikul Adil, membayar tebusan
untuk 2 ribu orang laki-laki di antara mereka.
Padahal 90 tahun sebelumnya, ketika
pasukan Salib Eropa merebut Baitul Maqdis, mereka justru melakukan
pembantaian. Diriwayatkan bahwa ketika penduduk al-Quds berlindung ke
Masjid Aqsa, di atasnya dikibarkan bendera keamanan pemberian panglima
Tancard. Ketika masjid itu sudah penuh dengan orang-orang (orang tua,
wanita dan anak-anak), mereka dibantai habis-habisan seperti menjagal
kambing. Darah-darah muncrat mengalir di tempat ibadah itu setinggi
lutut penunggang kuda. Kota menjadi bersih oleh penyembelihan
penghuninya secara tuntas. Jalan-jalan penuh dengan kepala-kepala yang
hancur, kaki-kaki yang putus dan tubuh-tubuh yang rusak. Para sejarawan
muslim menyebutkan jumlah mereka yang dibantai di Masjid Aqsa sebanyak
70 ribu orang. Para sejarawan Perancis sendiri tidak mengingkari
pembantaian mengerikan itu, bahkan mereka kebanyakan menceritakannya
dengan bangga.
Fakta ini cukup membuktikan betapa Islam
mampu memberikan perlindungan kepada penduduk yang wilayahnya
ditaklukan. Karena perang dalam Islam memang bukan untuk menghancurkan,
tapi memberi kehidupan. Dengan begitu, Islam tersebar ke hampir
sepertiga wilayah di dunia ini.
Peradaban Islam memang mengalami
jatuh-bangun, berbagai peristiwa telah menghiasi perjalanannya. Meski
demikian, orang tidak mudah untuk begitu melupakan peradaban emas yang
berhasil ditorehkannya untuk umat manusia ini. Pencerahan pun terjadi di
segala bidang dan di seluruh dunia.
Sejarawan Barat beraliran konservatif, W
Montgomery Watt menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam, ia
mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu
pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan
dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan
memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah.
Orientalis Sedillot seperti yang dikutip
Mustafa as-Siba’i dalam Peradaban Islam, Dulu, Kini, dan Esok,
mengatakan bahwa, “Hanya bangsa Arab pemikul panji-panji peradaban abad
pertengahan. Mereka melenyapkan barbarisme Eropa yang digoncangkan oleh
serangan-serangan dari Utara. Bangsa Arab melanglang mendatangi
‘sumber-sumber filsafat Yunani yang abadi’. Mereka tidak berhenti pada
batas yang telah diperoleh berupa khazanah-khazanah ilmu pengetahuan,
tetapi berusaha mengembangkannya dan membuka pintu-pintu baru bagi
pengkajian alam.”
Andalusia, yang menjadi pusat ilmu
pengetahuan di masa kejayaan Islam, telah melahirkan ribuan ilmuwan, dan
menginsiprasi para ilmuwan Barat untuk belajar dari kemajuan iptek yang
dibangun kaum muslimin.
Jadi wajar jika Gustave Lebon mengatakan
bahwa terjemahan buku-buku bangsa Arab, terutama buku-buku keilmuan
hampir menjadi satu-satunya sumber-sumber bagi pengajaran di
perguruan-perguruan tinggi Eropa selama lima atau enam abad. Tidak hanya
itu, Lebon juga mengatakan bahwa hanya buku-buku bangsa Arab-Persia lah
yang dijadikan sandaran oleh para ilmuwan Barat seperti Roger Bacon,
Leonardo da Vinci, Arnold de Philipi, Raymond Lull, san Thomas, Albertus
Magnus dan Alfonso X dari Castella.
Buku al-Bashariyyat karya al-Hasan bin
al-Haitsam diterjemahkan oleh Ghiteleon dari Polska. Gherardo dari
Cremona menyebarkan ilmu falak yang hakiki dengan menerjemahkan
asy-Syarh karya Jabir. Belum lagi ribuan buku yang berhasil memberikan
pencerahan kepada dunia. Itu sebabnya, jangan heran kalau perpustakaan
umum banyak dibangun di masa kejayaan Islam. Perpustakaan al-Ahkam di
Andalusia misalnya, merupakan perpustakaan yang sangat besar dan luas.
Buku yang ada di situ mencapai 400 ribu buah. Uniknya, perpustakaan ini
sudah memiliki katalog. Sehingga memudahkan pencarian buku. Perpustakaan
umum Tripoli di daerah Syam, memiliki sekitar tiga juta judul buku,
termasuk 50.000 eksemplar al-Quran dan tafsirnya. Dan masih banyak lagi
perpustakaan lainnya. Tapi naas, semuanya dihancurkan Pasukan Salib
Eropa dan Pasukan Tartar ketika mereka menyerang Islam.
Peradaban Islam memang peradaban emas
yang mencerahkan dunia. Itu sebabnya menurut Montgomery, tanpa dukungan
peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’nya, Barat bukanlah apa-apa. Wajar
jika Barat berhutang budi pada Islam.
Empat belas abad yang silam, Allah Ta’ala
telah mengutus Nabi Muhammad saw sebagai panutan dan ikutan bagi umat
manusia. Beliau adalah merupakan Rasul terakhir yang membawa agama
terakhir yakni Islam. Hal ini secara jelas dan tegas dikemukakan oleh
Al-Quran dimana Kitab Suci tersebut memproklamasikan keuniversalan misi
dari Muhammad saw sebagaimana kita jumpai dalam ayat-ayat berikut ini:
“Katakanlah, “Wahai manusia ,
sesungguhnya aku ini Rasul kepada kamu sekalian dari Allah yang
mempunyai kerajaan seluruh langit dan bumi. Tak ada yang patut disembah
melainkan Dia.” (QS. 7:159).
“Dan kami tidaklah mengutus engkau
melainkan sebagai pembawa kabar suka dan pemberi peringatan untuk
segenap manusia…” (QS. 34:29).
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh umat…” (QS. 21:108).
Nabi Muhammad saw telah mengubah
pandangan hidup dan memberi semangat yang menyala-nyala kepada umat
Islam, sehingga dari bangsa yang terkebelakang dalam waktu yang amat
singkat mereka, mereka telah menjadi guru sejagat. Umat Islam
menghidupkan ilmu, mengadakan penyelidikan-penyelidikan. Fakta sejarah
menjelaskan antara lain , bahwa Islam pada waktu pertama kalinya
memiliki kejayaan, bahwa ada masanya umat Islam memiliki tokoh-tokoh
seperti Ibnu Sina di bidang filsafat dan kedokteran, Ibnu Khaldun di
bidang Filsafat dan Sosiologi, Al-jabar dll. Islam telah datang ke
Spanyol memperkenalkan berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti ilmu
ukur, aljabar, arsitektur, kesehatan, filsafat dan masih banyak cabang
ilmu yang lain lagi.
Masa Kejayaan Islam Pertama telah menjadi
bukti sejarah bahwa dengan mengamalkan ajaran al-Quran umat Islam
sendiri akan menikmati kemajuan peradaban dan kebudayaan diatas bumi
ini. Di masa Kejayaan Islam Pertama, pimpinan Islam berada di tangan
tokoh-tokoh yang setiap orangnya patuh sepenuhnya dan setia kepada Nabi
Muhammad saw, baik secara keimanan, keyakinan, perbuatan, akhlak,
pendidikan, kesucian jiwa, keluhuran budi maupun kesempurnaan.
Pimpinan Umat Islam sesudah wafatnya nabi
Muhammad saw, Abubakar, Umar, Utsman dan Ali adalah merupakan
pemimpin-pemimpin duniawi dengan jabatan Khalifah, yang menganggap
kedudukan mereka itu sebagai pengabdian pada umat Islam, bukan sebagai
alat untuk mendapatkan kekuasaan mutlak dan kemegahan. Dalam tiga abad
pertama sejarah permulaaan Islam (650-1000M), bagian-bagian dunia yang
dikuasai Islam adalah bagian-bagian yang paling maju dan memiliki
peradaban yang tinggi. Negeri-negeri Islam penuh dengan kota-kota indah,
penuh dengan mesjid-mesjid yang megah, dimana-mana terdapat perguruan
tinggi dan Univesitas yang didalamnya tersimpan peradaban-peradaban dan
hikmah-hikmah yang bernilai tiggi. Kecemerlangan Islam Timur merupakan
hal yang kontras dengan dunia Nasrani Barat, yang tenggelam dalam masa
kegelapan zaman.
a. Kejayaan Islam masa Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah adalah suatu dinasti
(Bani Abbas) yang menguasai daulat (negara) Islamiah pada masa klasik
dan pertengahan Islam. Daulat Islamiah ketika berada di bawah kekuasaan
dinasti ini disebut juga dengan Daulat Abbasiyah. Daulat Abbasiyah
adalah daulat (negara) yang melanjutkan kekuasaan Daulat Umayyah.
Dinamakan Dinasti Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini
adalah keturunan Abbas (Bani Abbas), paman Nabi Muhammad saw. Pendiri
dinasti ini adalah Abu Abbas as-Saffah, nama lengkapnya yaitu Abdullah
as-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas.
Selama dinasti ini berkuasa, pola
pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan
politik, sosial , dan budaya.
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan
dan pola politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan
Bani Abbas menjadi lima periode:
1. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia Pertama.
2. Periode Kedua (232 H/847 M – 234 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki Pertama.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447
H/1055 M, masa kekuasaan Dinasti Buwaih dalam pemerintahan Khilafah
Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia Kedua.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M/ – 590
H/1194 M), masa kekuasaan Dinasti Saljuk dalam pemerintahan Khilafah
Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki Kedua.
5. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656
H/1258 M), masa Khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi
kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.
Dalam zaman Daulah Abbasiyah, masa
meranumlah kesusasteraan dan ilmu pengetahuan, disalin ke dalam bahasa
Arab, ilmu-ilmu purbakala. Lahirlah pada masa itu sekian banyak penyair,
pujangga, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli hukum, ahli tafsir, ahli
hadits, ahli filsafat, thib, ahli bangunan dan sebagainya.
Zaman ini adalah zaman keemasan Islam,
demikian Jarji Zaidan memulai lukisannya tentang Bani Abbasiyah. Dalam
zaman ini, kedaulatan kaum muslimin telah sampai ke puncak kemuliaan,
baik kekayaan, kemajuan, ataupun kekuasaan. Dalam zaman ini telah lahir
berbagai ilmu Islam, dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke
dalam bahasa Arab. Masa Daulah Abbasiyah adalah masa di mana umat Islam
mengembangkan ilmu pengetahuan, suatu kehausan akan ilmu pengetahuan
yang belum pernah ada dalam sejarah.
Kesadaran akan pentingnya ilmu
pengetahuan merefleksikan terciptanya beberapa karya ilmiah seperti
terlihat pada alam pemikiran Islam pada abad ke-8 M. yaitu gerakan
penerjemahan buku peninggalan kebudayaan Yunani dan Persia.
Permulaan yang disebut serius dari
penerjemahan tersebut adalah sejak abad ke-8 M, pada masa pemerintahan
Al-Makmun (813 –833 M) yang membangun sebuah lembaga khusus untuk tujuan
itu, “The House of Wisdom / Bay al-Hikmah”. Dr. Mx Meyerhof yang
dikutip oleh Oemar Amin Hoesin mengungkapkan tentang kejayaan Islam ini
sebagai berikut: “Kedokteran Islam dan ilmu pengetahuan umumnya,
menyinari matahari Hellenisme hingga pudar cahayanya. Kemudian ilmu
Islam menjadi bulan di malam gelap gulita Eropa, mengantarkan Eropa ke
jalan renaissance. Karena itulah Islam menjadi biang gerak besar, yang
dipunyai Eropa sekarang. Dengan demikian, pantas kita menyatakan, Islam
harus tetap bersama kita.” (Oemar Amin Hoesin)
Adapun kebijaksanaan para penguasa Daulah
Abbasiyah periode 1 dalam menjalankan tugasnya lebih mengutamakan
kepada pembangunan wilayah seperti: Khalifah tetap keturunan Arab,
sedangkan menteri, gubernur, dan panglima perang diangkat dari keturunan
bangsa Persia. Kota Bagdad sebagai ibukota, dijadikan kota
internasional untuk segala kegiatan ekonomi dan sosial serta politik
segala bangsa yang menganut berbagai keyakinan diizinkan bermukim di
dalamnya, ada bangsa Arab, Turki, Persia, Romawi, Hindi dan sebagainya.
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu
hal yang sangat mulia dan berharga. Para khalifah dan para pembesar
lainnya membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk kemajuan dan
perkembangan ilmu pengetahuan. Pada umumnya khalifah adalah para ulama
yang mencintai ilmu, menghormati sarjana dan memuliakan pujangga.
Kebebasan berpikir sebagai hak asasi
manusia diakui sepenuhnya. Pada waktu itu akal dan pikiran dibebaskan
benar-benar dari belenggu taklid, hal mana menyebabkan orang sangat
leluasa mengeluarkan pendapat dalam segala bidang, termasuk bidang
aqidah, falsafah, ibadah dan sebagainya.
Para menteri keturunan Persia diberi hak
penuh untuk menjalankan pemerintahan, sehingga mereka memegang peranan
penting dalam membina tamadun/peradaban Islam. Mereka sangat mencintai
ilmu dan mengorbankan kekayaannya untuk memajukan kecerdasan rakyat dan
meningkatkan ilmu pengetahuan, sehingga karena banyaknya keturunan
Malawy yang memberikan tenaga dan jasanya untuk kemajuan Islam.
b. Latar Belakang dan Faktor-faktor yang Memunculkan “Revolusi Abbasiyah”
Menjelang akhir daulah Umawiyah (akhir
abad pertama Hijriyah) terjadilah bermacam-macam kekacauan dalam segala
cabang kehidupan negara; terjadi kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang
dibuat oleh para khalifah dan para pembesar negara lainnya, terjadilah
pelanggaran-pelanggaranterhadap ajaran-ajaran Islam.
Di antara kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-kekeliruan yang diperbuat, yaitu:
– Politik kepegawaian negara didasarkan pada klik, golongan, suku, kaum dan kawan (nepotisme)
– Penindasan yang terus-menerus terhadap
pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Thalib RA pada khususnya dan terhadap
Bani Hasyim (Hasyimiah) pada umumnya.
– Menganggap rendah terhadap kaum muslimin yang bukan bangsa Arab, sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan.
– Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara yang terang-terangan.
Prof. Dr. Hamka melukiskan keadaan
tersebut “Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, waktu itulah
mulai disusun dengan diam-diam propaganda untuk menegakkan Bani Abbas.
Keadaan dan cara Umar bin Abdul Aziz memerintah telah menyebabkan
suburnya propaganda untuk Daulat yang akan berdiri itu. Sebab sejak
zaman Muawiyah Daulat Bani Umayyah itu didirikan dengan kekerasan.
Siasat yang keras dan licik, yang pada zaman sekarang dalam ilmu politik
disebut “Machiavellisme”, artinya mempergunakan segala kesempatan,
sekalipun kesempatan yang jahat untuk memperbesar kekuasaan. Umpamanya
memburuk-burukkan dan menyumpah Ali bin Abi Thalib RA dalam tiap khutbah
Jum’at; itu sudah terang tidak dapat diterima umat dengan rela hati.”
Selanjutnya Dr. Badri Yatim. MA. mengungkapkan dalam bukunya
c. Kegemilangan Iptek di Masa Khilafah Abasiyyah
Kekhilafahan Abbasiyah tercatat dalam
sejarah Islam dari tahun 750-1517 M/132-923 H. Diawali oleh khalifah Abu
al-’Abbas as-Saffah (750-754) dan diakhiri Khalifah al-Mutawakkil
Alailah III (1508-1517). Dengan rentang waku yang cukup panjang, sekitar
767 tahun, kekhilafahan ini mampu menunjukkan pada dunia ketinggian
peradaban Islam dengan pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi di dunia Islam.
Di era ini, telah lahir ilmuwan-ilmuwan
Islam dengan berbagai penemuannya yang mengguncang dunia. Sebut saja,
al-Khawarizmi (780-850) yang menemukan angka nol dan namanya diabadikan
dalam cabang ilmu matematika, Algoritma (logaritma). Ada Ibnu Sina
(980-1037) yang membuat termometer udara untuk mengukur suhu udara.
Bahkan namanya tekenal di Barat sebagai Avicena, pakar Medis Islam
legendaris dengan karya ilmiahnya Qanun (Canon) yang menjadi referensi
ilmu kedokteran para pelajar Barat. Tak ketinggalan al-Biruni (973-1048)
yang melakukan pengamatan terhadap tanaman sehingga diperoleh
kesimpulan kalau bunga memiliki 3, 4, 5, atau 18 daun bunga dan tidak
pernah 7 atau 9.
Pada abad ke-8 dan 9 M, negeri Irak
dihuni oleh 30 juta penduduk yang 80% nya merupakan petani. Hebatnya,
mereka sudah pakai sistem irigasi modern dari sungai Eufrat dan Tigris.
Hasilnya, di negeri-negeri Islam rasio hasil panen gandum dibandingkan
dengan benih yang disebar mencapai 10:1 sementara di Eropa pada waktu
yang sama hanya dapat 2,5:1.
Kecanggihan teknologi masa ini juga
terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarahnya. Seperti arsitektur
mesjid Agung Cordoba; Blue Mosque di Konstantinopel; atau menara spiral
di Samara yang dibangun oleh khalifah al-Mutawakkil, Istana al-Hamra
(al-Hamra Qasr) yang dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M.
Sebuah Istana terindah yang dibangun di atas bukit yang menghadap ke
kota Granada.
Kekhilafahan Abbasiyah dengan
kegemilangan ipteknya kini hanya tercatat dalam buku usang sejarah
Islam. Tapi jangan khawatir, someday Islam akan kembali jaya dan tugas
kita semua untuk mewujudkannya.
Dinasti Abbasiyiah membawa Islam ke
puncak kejayaan. Saat itu, dua pertiga bagian dunia dikuasai oleh
kekhalifahan Islam. Tradisi keilmuan berkembang pesat.
Masa kejayaan Islam, terutama dalam
bidang ilmu pengetahun dan teknologi, kata Ketua Kajian Timur Tengah
Universitas Indonesia, Dr Muhammad Lutfi, terjadi pada masa pemerintahan
Harun Al-Rasyid. Dia adalah khalifah dinasti Abbasiyah yang berkuasa
pada tahun 786.
Saat itu, kata Lutfi, banyak lahir tokoh
dunia yang kitabnya menjadi referensi ilmu pengetahuan modern. Salah
satunya adalah bapak kedokteran Ibnu Sina atau yang dikenal saat ini di
Barat dengan nama Avicenna.
Sebelum Islam datang, kata Luthfi, Eropa
berada dalam Abad Kegelapan. Tak satu pun bidang ilmu yang maju, bahkan
lebih percaya tahyul. Dalam bidang kedoteran, misalnya. Saat itu di
Barat, jika ada orang gila, mereka akan menangkapnya kemudian menyayat
kepalanya dengan salib. Di atas luka tersebut mereka akan menaburinya
dengan garam. ”Jika orang tersebut berteriak kesakitan, orang Barat
percaya bahwa itu adalah momen pertempuran orang gila itu dengan jin.
Orang Barat percaya bahwa orang itu menjadi gila karena kerasukan
setan,” jelas Luthfi.
Pada saat itu tentara Islam juga berhasil
membuat senjata bernama ‘manzanik’, sejenis ketepel besar pelontar batu
atau api. Ini membuktikan bahwa Islam mampu mengadopsi teknologi dari
luar. Pada abad ke-14, tentara Salib akhirnya terusir dari Timur Tengah
dan membangkitkan kebanggaan bagi masyarakat Arab.
Lain lagi pada masa pemerintahan dinasti
Usmaniyah — di Barat disebut Ottoman — yang kekuatan militernya berhasil
memperluas kekuasaan hingga ke Eropa, yaitu Wina hingga ke selatan
Spanyol dan Perancis. Kekuatan militer laut Usmaniyah sangat ditakuti
Barat saat itu, apalagi mereka menguasai Laut Tengah.
Kejatuhan Islam ke tangan Barat dimulai
pada awal abad ke-18. Umat Islam mulai merasa tertinggal dalam bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi setelah masuknya Napoleon Bonaparte ke
Mesir. Saat itu Napoleon masuk dengan membawa mesin-mesin dan peralatan
cetak, ditambah tenaga ahli.
Dinasti Abbasiyah jatuh setelah kota
Baghdad yang menjadi pusat pemerintahannya diserang oleh bangsa Mongol
di bawah pimpinan Hulagu Khan. Di sisi lain, tradisi keilmuan itu kurang
berkembang pada kekhalifahan Usmaniyah.
Salah langkah diambil saat mereka
mendukung Jerman dalam perang dunia pertama. Ketika Jerman kalah, secara
otomatis Turki menjadi negara yang kalah perang sehingga akhirnya
wilayah mereka dirampas Inggris dan Perancis.
Tanggal 3 Maret 1924, khilafah Islamiyah
resmi dihapus dari konstitusi Turki. Sejak saat itu tidak ada lagi
negara yang secara konsisten menganut khilafah Islamiyah. Terjadi
gerakan sekularisasi yang dipelopori oleh Kemal At-Taturk, seorang
Zionis Turki.
Kini 82 tahun berlalu, umat Muslim
tercerai berai. Akankah Islam kembali mengalami zaman keemasan seperti
yang terjadi di 700 tahun awal pemerintahannya?
Ketua MUI, KH Akhmad Kholil Ridwan
menyatakan optimismenya bahwa Islam akan kembali berjaya di muka bumi.
Ridwan menyebut saat ini merupakan momen kebangkitan Islam kembali.
”Seperti janji Allah, 700 tahun pertama Islam berjaya, 700 tahun
berikutnya Islam jatuh dan sekarang tengah mengalami periode 700 tahun
ketiga menuju kembalinya kebangkitan Islam,” ujarnya.
Meskipun saat ini umat Islam banyak
ditekan, ujar Ridwan, semua upaya ini justru semakin memperkuat
eksistensi Islam. Ini sesuai janji Allah yang menyatakan bahwa meskipun
begitu hebatnya musuh menindas Islam namun hal ini bukannya akan
melemahkan umat Islam. ”Ibaratnya paku, semakin ditekan, Islam akan
semakin menancap dengan kuat,”ujarnya.
Sementara itu, Luthfi menyatakan sistem
khilafah Islamiyah masih relevan diterapkan pada zaman sekarang ini asal
dimodifikasi. Ia mencontohkan konsep pemerintahan yang dianut Iran yang
menjadi modifikasi antara teokrasi (kekuasaan yang berpusat pada Tuhan)
dan demokrasi (yang berpusat pada masyarakat).
Di Iran, kekuasaan tertinggi tidak
dipegang parlemen atau presiden, melainkan oleh Ayatullah atau Imam,
yang juga memiliki Dewan Ahli dan Dewan Pengawas. Sistem pemerintahan
Iran ini, menurut Luthfi, merupakan tandingan sistem pemerintahan Barat.
”Tak heran kalau Amerika Serikat sangat takut dengan Iran karena mereka
bisa menjadi tonggak peradaban baru Islam.”
Konsep khilafah Islamiyah, kata Luthfi,
mengharuskan hanya ada satu pemerintahan Islami di dunia dan tidak
terpecah-belah berdasarkan negara atau etnis. ”Untuk mewujudkannya lagi
saat ini, sangat sulit,” kata dia.
Sementara Kholil Ridwan menjelaskan ada
tiga upaya konkret yang bisa dilakukan umat untuk mengembalikan kejayaan
Islam di masa lampau. Yang pertama adalah merapatkan barisan. Allah
berfirman dalam QS Ali Imran ayat 103 yang isinya “Dan berpeganglah
kalian semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai
berai.”
Upaya lainnya adalah kembali kepada
tradisi keilmuan dalam agama Islam. Dalam Islam, jelasnya, ada dua jenis
ilmu, yaitu ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Yang masuk golongan
ilmu fardhu ‘ain adalah Al-Quran, hadis, fikih, tauhid, akhlaq, syariah,
dan cabang-cabangnya. Sedangkan yang masuk ilmu fardhu kifayah adalah
kedokteran, matematika, psikologi, dan cabang sains lainnya.
Sementara upaya ketiga adalah dengan mewujudkan sistem yang berdasarkan syariah Islam.
d. Runtuhnya sebuah kejayaan
Jatuh itu memang menyakitkan. Apalagi
ketika kita udah berada jauh di puncak kesuksesan. Setelah berhasil
membangun kejayaan selama 14 abad lebih, akhirnya peradaban Islam jatuh
tersungkur. Inilah kisah tragis yang dialami peradaban Islam. Bukan
tanpa sebab tentunya. Serangan pemikiran dan militer dari Barat
bertubi-tubi menguncang Islam. Akibatnya, kaum muslimin mulai goyah.
Puncaknya, adalah tergusurnya Khilafah Islamiyah di Turki dari pentas
perpolitikan dunia.
Saat itu, Inggris menetapkan syarat bagi
Turki, bahwa Inggris tak akan menarik dirinya dari bumi Turki, kecuali
setelah Turki menjalankan syarat-syarat berikut: Pertama, Turki harus
menghancurkan Khilafah Islamiyah, mengusir Khalifah dari Turki, dan
menyita harta bendanya. Kedua, Turki harus berjanji untuk menumpas
setiap gerakan yang akan mendukung Khilafah. Ketiga, Turki harus
memutuskan hubungannya dengan Islam. Keempat, Turki harus memilih
konstitusi sekuler, sebagai pengganti dari konstitusi yang bersumber
dari hukum-hukum Islam. Mustafa Kamal Ataturk kemudian menjalankan
syarat-syarat tersebut, dan negara-negara penjajah pun akhirnya menarik
diri dari wilayah Turki (Jalal al-Alam dalam kitabnya Dammirul Islam Wa
Abiiduu Ahlahu, hlm. 48)
Cerzon (Menlu Inggris saat itu)
menyampaikan pidato di depan parlemen Inggris, “Sesungguhnya kita telah
menghancurkan Turki, sehingga Turki tidak akan dapat bangun lagi setelah
itu… Sebab kita telah menghancurkan kekuatannya yang terwujud dalam dua
hal, yaitu Islam dan Khilafah.”
Jadi terakhir kaum muslimin hidup dalam
naungan Islam adalah di tahun 1924, tepatnya tanggal 3 Maret tatkala
Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki alias Konstantinopel
diruntuhkan oleh kaki tangan Inggris keturunan Yahudi, Musthafa Kemal
Attaturk. Nah, dialah yang mengeluarkan perintah untuk mengusir Khalifah
Abdul Majid bin Abdul Aziz, Khalifah (pemimpin) terakhir kaum muslimin
ke Swiss, dengan cuma berbekal koper pakaian dan secuil uang. Sebelumnya
Kemal mengumumkan bahwa Majelis Nasional Turki telah menyetujui
penghapusan Khilafah. Sejak saat itulah sampai sekarang kita nggak punya
lagi pemerintahan Islam.
Akibatnya, umat Islam terkotak-kotak di
berbagai negeri berdasarkan letak geografis yang beraneka ragam, yang
sebagian besarnya berada di bawah kekuasaan musuh yang kafir: Inggris,
Perancis, Italia, Belanda, dan Rusia. Di setiap negeri tersebut, kaum
kafir telah mengangkat penguasa yang bersedia tunduk kepada mereka dari
kalangan penduduk pribumi. Para penguasa ini adalah orang-orang yang
mentaati perintah kaum kafir tersebut, dan mampu menjaga stabilitas
negerinya.
Kaum kafir segera mengganti undang-undang
dan peraturan Islam yang diterapkan di tengah-tengah rakyat dengan
undang-undang dan peraturan kafir milik mereka. Kaum kafir segera
mengubah kurikulum pendidikan untuk mencetak generasi-generasi baru yang
mempercayai persepsi kehidupan menurut Barat, serta memusuhi akidah dan
syariat Islam. Khilafah Islamiyah dihancurkan secara total, dan
aktivitas untuk mengembalikan serta mendakwahkannya dianggap sebagai
tindakan kriminal yang dapat dijatuhi sanksi oleh undang-undang.
Harta kekayaan dan potensi alam milik
kaum muslimin telah dirampok oleh penjajah kafir, yang telah
mengeksploitasi kekayaan tersebut dengan cara yang seburuk-buruknya, dan
telah menghinakan kaum muslimin dengan sehina-hinanya (Syaikh
Abdurrahman Abdul Khalik, dalam kitabnya al-Muslimun Wal Amal as-Siyasi,
hlm. 13)
Beginilah kita sekarang sobat. Tapi
jangan bersedih, sebab kita akan kembali mengagungkan kejayaan Islam
itu. Yakinlah, kita masih bisa merebutnya, meski dengan nyawa sebagai
tebusannya. Kita lahir ke dunia ini dengan berlumur darah, maka kenapa
musti takut mati dengan berlumur darah. Syahid di medan tempur.
e. Pandangan Islam terhadap IPTEK
Ahmad Y Samantho dalam makalahnya di ICAS
Jakarta (2004) mengatakan bahwa kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi
dunia, yang kini dipimpin oleh peradaban Barat satu abad terakhir ini,
mencegangkan banyak orang di pelbagai penjuru dunia. Kesejahteraan dan
kemakmuran material (fisikal) yang dihasilkan oleh perkembangan Iptek
modern tersebut membuat banyak orang lalu mengagumi dan meniru-niru gaya
hidup peradaban Barat tanpa dibarengi sikap kritis terhadap segala
dampak negatif dan krisis multidimensional yang diakibatkannya.
Peradaban Barat moderen dan postmodern
saat ini memang memperlihatkan kemajuan dan kebaikan kesejahteraan
material yang seolah menjanjikan kebahagian hidup bagi umat manusia.
Namun karena kemajuan tersebut tidak seimbang, pincang, lebih
mementingkan kesejahteraan material bagi sebagian individu dan
sekelompok tertentu negara-negara maju (kelompok G-8) saja dengan
mengabaikan, bahkan menindas hak-hak dan merampas kekayaan alam negara
lain dan orang lain yang lebih lemah kekuatan iptek, ekonomi dan
militernya, maka kemajuan di Barat melahirkan penderitaan
kolonialisme-imperialisme (penjajahan) di Dunia Timur & Selatan.
Kemajuan Iptek di Barat, yang didominasi
oleh pandangan dunia dan paradigma sains (Iptek) yang
positivistik-empirik sebagai anak kandung filsafat-ideologi
materialisme-sekuler, pada akhirnya juga telah melahirkan penderitaan
dan ketidakbahagiaan psikologis/ruhaniah pada banyak manusia baik di
Barat maupun di Timur.
Krisis multidimensional terjadi akibat
perkembangan Iptek yang lepas dari kendali nilai-nilai moral Ketuhanan
dan agama. Krisis ekologis, misalnya: berbagai bencana alam: tsunami,
gempa dan kacaunya iklim dan cuaca dunia akibat pemanasan global yang
disebabkan tingginya polusi industri di negara-negara maju; Kehancuran
ekosistem laut dan keracunan pada penduduk pantai akibat polusi yang
diihasilkan oleh pertambangan mineral emas, perak dan tembaga, seperti
yang terjadi di Buyat, Sulawesi Utara dan di Freeport Papua, Minamata
Jepang. Kebocoran reaktor Nuklir di Chernobil, Rusia, dan di India, dll.
Krisis Ekonomi dan politik yang terjadi di banyak negara berkembang dan
negara miskin, terjadi akibat ketidakadilan dan ’penjajahan’
(neo-imperialisme) oleh negara-negara maju yang menguasai perekonomian
dunia dan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Negara-negara yang berpenduduk mayoritas
Muslim, saat ini pada umumnya adalah negara-negara berkembang atau
negara terkebelakang, yang lemah secara ekonomi dan juga lemah atau
tidak menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan sains-teknologi.
Karena nyatanya saudara-saudara Muslim kita itu banyak yang masih bodoh
dan lemah, maka mereka kehilangan harga diri dan kepercayaan dirinya.
Beberapa di antara mereka kemudian menjadi hamba budaya dan pengikut
buta kepentingan negara-negara Barat. Mereka menyerap begitu saja
nilai-nilai, ideologi dan budaya materialis (’matre’) dan sekular (anti
Tuhan) yang dicekokkan melalui kemajuan teknologi informasi dan media
komunikasi Barat. Akibatnya krisis-krisis sosial-moral dan kejiwaan pun
menular kepada sebagian besar bangsa-bangsa Muslim.
Kenyataan memprihatikan ini sangat
ironis. Umat Islam yang mewarisi ajaran suci Ilahiah dan peradaban dan
Iptek Islam yang jaya di masa lalu, justru kini terpuruk di negerinya
sendiri, yang sebenarnya kaya sumber daya alamnya, namun miskin kualitas
sumberdaya manusianya (pendidikan dan Ipteknya). Ketidakadilan global
ini terlihat dari fakta bahwa 80% kekayaan dunia hanya dikuasai oleh 20 %
penduduk kaya di negara-negara maju. Sementara 80% penduduk dunia di
negara-negara miskin hanya memperebutkan remah-remah sisa makanan pesta
pora bangsa-bangsa negara maju.
Ironis bahwa Indonesia yang sangat kaya
dengan sumber daya alam minyak dan gas bumi, justru mengalami krisis dan
kelangkaan BBM. Ironis bahwa di tengah keberlimpahan hasil produksi
gunung emas-perak dan tembaga serta kayu hasil hutan yang ada di
Indonesia, kita justru mengalami kesulitan dan krisis ekonomi,
kelaparan, busung lapar, dan berbagai penyakit akibat kemiskinan rakyat.
Kemana harta kekayaan kita yang Allah berikan kepada tanah air dan
bangsa Indonesia ini? Mengapa kita menjadi negara penghutang terbesar
dan terkorup di dunia?
Kenyataan menyedihkan tersebut sudah
selayaknya menjadi cambuk bagi kita bangsa Indonesia yang mayoritas
Muslim untuk gigih memperjuangkan kemandirian politik, ekonomi dan moral
bangsa dan umat. Kemandirian itu tidak bisa lain kecuali dengan
pembinaan mental-karakter dan moral (akhlak) bangsa-bangsa Islam
sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilandasi
keimanan-taqwa kepada Allah swt. Serta melawan pengaruh buruk budaya
sampah dari Barat yang Sekular, Matre dan hedonis (mempertuhankan
kenikmatan hawa nafsu).
Akhlak yang baik muncul dari keimanan dan
ketaqwaan kepada Allah swt Sumber segala Kebaikan, Keindahan dan
Kemuliaan. Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt hanya akan muncul
bila diawali dengan pemahaman ilmu pengetahuan dan pengenalan terhadap
Tuhan Allah swt dan terhadap alam semesta sebagai tajaliyat
(manifestasi) sifat-sifat KeMahaMuliaan, Kekuasaan dan Keagungan-Nya.
Islam, sebagai agama penyempurna dan
paripurna bagi kemanusiaan, sangat mendorong dan mementingkan umatnya
untuk mempelajari, mengamati, memahami dan merenungkan segala kejadian
di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang
melandasi pengembangan Ipteknya hanya untuk kepentingan duniawi yang
’matre’ dan sekular, maka Islam mementingkan pengembangan dan penguasaan
Iptek untuk menjadi sarana ibadah-pengabdian Muslim kepada Allah swt
dan mengembang amanat Khalifatullah (wakil/mandataris Allah) di muka
bumi untuk berkhidmat kepada kemanusiaan dan menyebarkan rahmat bagi
seluruh alam (Rahmatan lil ’Alamin). Ada lebih dari 800 ayat dalam
Al-Quran yang mementingkan proses perenungan, pemikiran dan pengamatan
terhadap berbagai gejala alam, untuk ditafakuri dan menjadi bahan dzikir
(ingat) kepada Allah. Yang paling terkenal adalah ayat:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring
dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia.
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali
Imron [3] : 190-191)
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Mujadillah [58]: 11 )
Bagi umat Islam, kedua-duanya adalah
merupakan ayat-ayat (atau tanda-tanda) ke-Mahakuasa-an dan Keagungan
Allah swt. Ayat tanziliyah/naqliyah (yang diturunkan atau transmited
knowledge), seperti kitab-kitab suci dan ajaran para Rasul Allah
(Taurat, Zabur, Injil dan Al Quran), maupun ayat-ayat kauniyah
(fenomena, prinsip-prinsip dan hukum alam), keduanya bila dibaca,
dipelajari, diamati dan direnungkan, melalui mata, telinga dan hati
(qalbu + akal) akan semakin mempertebal pengetahuan, pengenalan,
keyakinan dan keimanan kita kepada Allah swt, Tuhan Yang Maha Kuasa,
Wujud yang wajib, Sumber segala sesuatu dan segala eksistensi). Jadi
agama dan ilmu pengetahuan, dalam Islam tidak terlepas satu sama lain.
Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua sisi koin dari satu mata uang koin
yang sama. Keduanya saling membutuhkan, saling menjelaskan dan saling
memperkuat secara sinergis, holistik dan integratif.
Sumber:
Komentar
Posting Komentar